Wedang Ronde Mbah Paiyem dan Upaya Mencintai Hal Baru

Di malam hari yang dingin selepas hujan deras yang masih menyisakan rintik, semangkuk wedang ronde tentu hal yang sulit untuk ditolak….kecuali untuk saya. Tanpa mengurangi rasa hormat dan nasionalisme, sebagai warga negara yang negerinya terkenal kaya akan rempah, saya termasuk dalam jenis manusia yang kurang menyukai rempah, terutama jahe.

Dulu sewaktu tingga di Solo saya punya minuman andalan sebagai alternatif pilihan ketika diajak ngeronde, yaitu wedang asle. Kedua minuman ini memang biasanya dijual bersamaan. Wedang asle berisi ketan merah, potongan roti tawar, agar-agar dan gula pasir dengan kuah santan panas. Agak mirip dawet yang dipanasi menurut hemat saya. Jadilah asle menjadi penyelesaian terhadap ketidaksukaan saya kepada jahe. Saya pesan asle dan teman saya pesan wedang ronde. Bersama-sama kami duduk di sudut lapangan Manahan sambil menikmati minuman masing-masing. Seperti cinta beda keyakinan yang tetap bisa berjalan beriringan.

(more…)