koling, ketika kantong cekak dan butuh kopi enak.

Tugu Golong Gilig

Berhubung malam ini saya merasa sangat suntuk, maka saya memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Tugu Golong Gilig menjadi tujuan saya malam ini. Tidak ada rencana khusus, hanya sekedar mencari angin dan sekedar melepas penat. Duduk-duduk santai di sudut kota Jogja tentu kurang asoy jika tidak ditemani kopi, dan sepertinya malam ini nasib saya sedang mujur, karena saya menemukan sebuah gerobak Koling tidak jauh dari tempat saya duduk.

Tugu Golong Gilig
Tugu Yogyakarta

Bukan, koling disini bukan kopi yang dicampur dengan kolang-kaling, bukan juga seduhan kopi hitam yang bercampur dengan beling. Jika kalian sudah pernah mendengar tentang kopi jos; jenis minuman dengan kepulan asap maha jos hasil pertemuan kopi hitam panas dan arang yang membara. Maka Koling adalah nama dari kedai bergerak yang menyajikan seduhan kopi ala manual brew. Tak hanya kopi, kedai ini juga menyajikan dark choco, greentea, dan cascara.

Gerobak Kopi Keliling milik Koling
Gerobak Koling

Kedai kopi bergerak ini selalu menyajikan dua jenis kopi, arabica dan robusta; tentunya dengan varian vaietas yang beragam tergantung pada hasil panen para petani kopi. kali ini saya mencoba kopi arabica varian sunda natural, cara penyajian yang saya pilih adalah pour-over v60. lalu bagaimana soal rasa? saya tidak pandai mendeskripsikan, dengan harga dua belas ribu per gelas, kedai ini sudah berani untuk diadu dengan cafe-cafe yang menyajikan kopi manual brew lainnya.

Gerobak Kopi Keliling punya dua tempat mangkal wajib; Tugu Jogja dan Titik KM-0, tak jauh dari jalan Malioboro yang terkenal itu. jika kalian menghadap ke arah stasiun jogja, lapak koling ada di sudut sebelah kanan (utara-barat) Tugu. sedangkan lapak lainnya berada di titik KM-0 persis di depan kantor BNI. Kedai ini mulai buka sekitar jam 18.00 hingga jam 01.00 dini hari, tergantung dari stok air, dan gas yang mereka bawa.

Kalian penasaran? Saya menyarankan kalian untuk mencobanya, menikmati secangkir kopi, atau cokelat hangat sembari menyelami syahdunya Yogya di malam hari. Meminjam kata yang sering diucapkan oleh pak lik saya, it is worth for every penny!

Bagikan Pengalamanmu

%d bloggers like this: