Wedang Ronde Mbah Paiyem dan Upaya Mencintai Hal Baru

Di malam hari yang dingin selepas hujan deras yang masih menyisakan rintik, semangkuk wedang ronde tentu hal yang sulit untuk ditolak….kecuali untuk saya. Tanpa mengurangi rasa hormat dan nasionalisme, sebagai warga negara yang negerinya terkenal kaya akan rempah, saya termasuk dalam jenis manusia yang kurang menyukai rempah, terutama jahe.

Dulu sewaktu tingga di Solo saya punya minuman andalan sebagai alternatif pilihan ketika diajak ngeronde, yaitu wedang asle. Kedua minuman ini memang biasanya dijual bersamaan. Wedang asle berisi ketan merah, potongan roti tawar, agar-agar dan gula pasir dengan kuah santan panas. Agak mirip dawet yang dipanasi menurut hemat saya. Jadilah asle menjadi penyelesaian terhadap ketidaksukaan saya kepada jahe. Saya pesan asle dan teman saya pesan wedang ronde. Bersama-sama kami duduk di sudut lapangan Manahan sambil menikmati minuman masing-masing. Seperti cinta beda keyakinan yang tetap bisa berjalan beriringan.

wedang asle khas solo

Kemudian pindahlah saya ke Jogja. Dimana kemungkinan keberadaan wedang ronde yang juga menjual asle adalah sangat kecil. Mau tidak mau saya mulai mencoba mencicipi minuman ini. Tetap saja lidah saya susah menerima. Sampai akhirnya ada teman yang bercerita tentang Wedang Ronde Mbah Paiyem atau dikenal juga dengan Wedang Ronde Kauman, yang terkenal paling enak se-Jogja raya.

Maka saya (yang sedang belajar menyukai ronde) dan rekan saya (yang penggemar ronde) memutuskan untuk mencobanya. Sekitar pukul delapan malam kita berangkat menuju Kauman. Untuk menemukan tempat ini tidaklah terlalu susah. Lokasinya berada dipinggir Jalan Kauman yang hanya berjarak sekitar 100 meter arah barat dari Alun-alun Utara atau Keraton tepatnya didepan Optik Naufal.

Ada beberapa hal yang sedikit di luar dugaan ketika sampai di tempat ini. Dengan embel-embel “legendnya ronde Jogja” saya pikir tempatnya cukup besar dan ramai. Ternyata yang saya temukan adalah sebuah gerobak sederhana yang hanya diterangi lampu minyak. Di belakangnya, ada sebuah kursi panjang yang cukup untuk 3-4 orang. Mbah Paiyem sendiri, merupakan seorang wanita tua berusia sekitar 90an. Lebih tua dari bayangan saya. Beliau, seorang diri menjajakan dagangannya.

Dengan usia serenta itu Mbah Paiyem tetap cekatan melayani pesanan kami. Ya meskipun harus sedikit sabar ketika memesan karena pendengaran yang mulai berkurang. Sambil meracik pesanan kami, Mbah Paiyem bercerita dalam bahasa Jawa tentang rondenya yang pernah menjadi langganan keluarga Presiden Soeharto ketika sedang mengunjungi Jogja. Benar saja, karna waktu saya coba cek in di Path, salah satu nama yang muncul untuk menandai tempat ini adalah “Wedang Ronde langganan Pak Harto”.

Lalu akhirnya tiba waktunya untuk mencicipi ronde legendaris ini. Rasanya pas, tidak terlalu manis dan tidak terlalu pedas. Jika rasa adalah struktur, maka lembut rasanya cukup mewakili. Ah begitulah, saya tidak terlalu pandai mendeskripsikan rasa. Yang jelas saat itu adalah pertama kalinya saya merasakan enaknya ronde, sampai habis semangkok penuh.

Wedang Ronde Mbah Paiyem ini buka mulai pukul 18.30 sampai dengan sekitar pukul 23.00. Namun kalau sedang rame bisa tutup lebih cepat. Setiap hari Mbah Paiyem biasa berangkat dari rumahnya di daerah Kadipaten Kulon dengan berjalan kaki bersama puteranya yang membantunya mendorong gerobak dagangan. Satu mangkok ronde dihargai lima ribu rupiah saja.

Saat itu waktu baru menunjukkan pukul sembilan malam, namun dagangan Mbah Paiyem sudah tinggal sedikit, bahkan ada beberapa bahan yang sudah habis. Mbah Paiyem sendiri sudah terlihat terkantuk-kantuk di kursinya. Sambil sesekali mengeluhkan punggung dan kepalanya yang pusing, “Geger e iki lho Mbak, lara tenan rasane. Ameh kukut wae bariki.” ujarnya sambil memijit-mijit punggung.

Saya dan teman saya seperti menangkap kode di balik curhat beliau. Kemudian langsung cepat-cepat menghabiskan mangkok di depan kami, membayar dan kemudian berpamitan. Meski sebenarnya masih ingin mendengar curhatan dan gerutuan Mbah Paiyem yang terdengar lebih seperti mengomel.

Jogjakarta, lewat kesederhanaan macam inilah kota ini terasa begitu istimewa.

Bagikan Pengalamanmu

%d bloggers like this: