Lik Man, Sang Maestro Kopi Joss

Setelah hampir 8 jam berada di sebuah kereta, saya pun sampai pada kota tujuan. Sebuah kota yang menampilkan sejuta peristiwa dan nuansa lokal, dimana situs-situs bersejarah, aneka kuliner, dan pagelaran seni menjadi identitas dari kota ini. Ya, itulah Yogyakarta.

Berdiri agak lama di stasiun ini, akhirnya saya pun merasa harus mengisi perut dan mengistirahatkan tubuh sejenak. Kemudian saya pun memutuskan untuk berjalan, dan tak jauh dari stasiun tersebut, berderet arena kuliner yang sangat khas dari Yogyakarta, dimana para kawula muda kerap berkumpul, berbincang hangat, untuk menghabiskan malamnya di kota ini.

Perjalanan pertama di kota Jogja ini pun saya mulai disini. Pada sebuah warung yang berada di utara stasiun Tugu. Warung tersebut tampak sederhana, meja panjang dan kursi plastik, serta suara kendaraan melintas tersaji di warung tersebut. Kebanyakan orang menamainya dengan angkringan kopi Jos Lik Man. Konon, warung yang saya kunjungi ini adalah salah satu pemula untuk minuman legendaris satu ini.

Sesampainya disana, saya pun langsung memesan menu legendaris tersebut –Kopi Joss. Dengan cekatan, penjual angkringan tersebut mengambil arang yang membara dari dalam tungku, lalu dimasukkan ke dalam segelas kopi. Kemudian Kepul asap dari segelas kopi  itu pun menyeruak dan menebarkan aroma khas. Josss….!!! bunyi itulah yang kemudian melatarbelakangi sajian kuliner tersebut.

Sambil menyeruput kopi  tersebut, saya pun juga menikmati hangatnya makanan tradisional bernama jadah. Rasanya yang gurih dan epik mampu membangkitkan citarasa yang tak tergantikan. Sembari menikmati kedua sajian tersebut, saya pun memberanikan diri untuk memulai perbincangan kecil dengan penjual angkringan tersebut. Namanya adalah Pak Kobar, pria asal Klaten yang ternyata adalah pemilik generasi ketiga dari Angkringan Lik Man ini.

Saya                : Maaf sebelumnya, lebih enak saya panggil Lik Man atau apa ya pak supaya terasa lebih akrab?

Pak Kobar      : hehehe, Lik Man itu sebenarnya nama dari bapak kandung saya. Nah beliau inilah yang mengembangkan dan memperjuangkan penghasilan keluarga kami. Saya sendiri biasa dipanggil Kobar sama teman-teman yang juga ikut merantau, mencari nafkah di tempat ini.

Saya                : O, begitu to pak ceritanya? Nah, pak Kobar sendiri sebenarnya asli mana? Kok tadi bapak bilang merantau mencari nafkah?

Pak Kobar      : Kebanyakan yang jualan di sini sebenarnya asli Klaten mas. Termasuk teman-teman yang ikut dengan saya, seperti masnya itu yang suka bawa baki, sama mas satunya yang suka memarkir motor (sambil menunjuk pada salah seorang karyawannya).

Saya                : Sejak kapan sih warung ini berdiri, pak?

Pak Kobar      : Sejak tahun 60-an mas, saat itu kakek saya yang pertama jualan disini. Nah, setelah kakek saya sudah tua digantikanlah pekerjaan ini sama bapak saya sendiri yang tak lain adalah putra dari kakek. Dulu, warung ini berdiri di depan Stasiun Tugu. Sementara, di sepanjang jalan ini masih sangat sepi, mas.

Saya                : Sebenarnya ide Kopi Joss sendiri, dapat darimana sih, pak?

Pak Kobar      : Hehehe, kalo itu mas, sebenarnya akal-akalan bapak saya saja. Kopi Joss populer pada tahun 80-an, kebetulan  saat itu bapak saya kedatangan seorang pelanggan dari Semarang yang meminta kopi dengan asap yang mengepul. Karena kebingungan, bapak saya pun akhirnya mengambil sebuah arang dari tungku api kemudian dimasukkan ke dalam segelas kopi tersebut. Dari situlah, kopi itulah yang kemudian sampai saat ini sangat populer dengan nama “Kopi Joss” .

Kopi Jos racikan Angkringan Lik Man (Dok. Istimewa)

Saya                : Bagaimana tanggapan para pelanggan dengan inovasi tersebut, pak?

Pak Kobar      : Banyak yang penasaran, mas. Bahkan gara-gara kopi joss racikan bapak saya ini, ada mahasiswa dari UGM melakukan penelitian. Ternyata, akal akalan bapak saya tadi bisa menurunkan kadar kafein dalam kopi dan bahkan dijadikan sebagai obat masuk angin, mas.

Saya                : Selain kopi joss, apa saja sih menu andalan warung ini?

Pak Kobar      : Ada es tape, kalau untuk minuman mas. Selain itu, ada pula jadah bakar, mas. Tapi sebenarnya, menu yang disajikan pun sama dengan angkringan lainnya.

Saya                : Ngomong-ngomong, berapa sih pendapatan bersih hariannya?

Pak kobar       : Wah, kalau masalah itu cukup lah buat menghidupi keluarga di rumah. Kurang lebih 300 ribuan lah, mas per-hari. Tergantung pas ramai atau tidak.

Saya                : Mulai jam berapa sih, warung ini buka?

Pak kobar       : Sebenarnya dulu waktu masih di pegang bapak saya, bisa lebih dari itu mas. Barangkali karena jumlah jam bukanya lebih banyak, yaitu 24 jam. Kalau sekarang kan dari siang sampai pagi mas.

Saya                : Siapa saja sih pelanggan dari warung ini, pak ?

Pak Kobar      : Banyak, ada mahasiswa, pegawai, dan sebagainya.

Saya                : Saya juga pernah mendengar pak, katanya tokoh-tokoh besar Jogja juga pernah mampir ke warung bapak ya?

Pak Kobar      : Betul, Mas. Saya sendiri awalnya tidak tahu kalu mereka ini ternyata orang-orang penting. Seperti Cak Nun, Butet Kertaradjasa, Djaduk Ferianto, Marwoto, sampai Deddy Corbuzier pernah berkunjung disini.

Saya                : O begitu pak, ternyata terkenal juga ya tempat bapak ini? Saya juga melihat tempat ini kerap dijadikan sebagai lokasi syuting film lho, pak?

Pak Kobar      : Hehehe, yah itu bonus dari perjuangan bapak saya dulu kali ya mas? Bapak sendiri biasa aja, yang penting kan keluarga bisa ternafkahi to mas? Hehehe

Setelah melakukan perbincangan panjang, saya pun mendapatkan kisah menarik akan sejarah panjang tentang sang maestro, kopi Joss. Tak terasa segelas kopi Joss yang saya pesan telah tandas, sementara malam semakin larut dan saya pun harus bergegas mencari tempat penginapan. Setelah membayar, saya pun mengucapkan banyak terimakasih kepada Pak Kobar tentang sepenggal kisah yang baru saja diceritakannya.

Lik Man, adalah seorang maestro Kopi Joss, bahkan sampai saat ini kopi tersebut telah menjadi minuman populer yang banyak diminati masyarakat. Kopi dengan cita rasa menarik, dan estetik. Seperti namanya, “Kopi Joss” tak hanya desisnya yang berbunyi “Joss”, tetapi rasa dan sensasinya pun juga “Joss”.

Bagikan Pengalamanmu

%d bloggers like this: